Ada masa ketika sujud terasa begitu ringan memeluk bumi, hati merengkuh tenang, doa-doa mengalir tanpa jeda, dan ayat-ayat-Nya terasa begitu dekat mengusap jiwa. Namun, kita pun tak luput dari hari-hari di mana segalanya terasa teramat berat.
Mushaf itu masih diam di sudut yang sama, namun tangan seolah kaku tak kuasa untuk meraihnya. Lirih doa memendek, dan dzikir yang terucap terasa hambar tanpa nyawa. Dalam sunyi kita merintih, “Mengapa hatiku terlempar sejauh ini?” Padahal, Dia tak pernah sejengkal pun menjauh.
Sering kali, kitalah yang membiarkan hati ini meredup; tertutup pekatnya lelah, riuhnya kesibukan dunia, dosa-dosa yang luput ditangisi, atau ambisi fana yang terlalu sesak memenuhi dada.
Padahal, berjalan kembali pada-Nya tak selalu menuntut langkah yang besar. Terkadang, rindu itu cukup diobati dengan membuka satu halaman suci, meneteskan satu kalimat syukur yang hening, menengadahkan tangan beberapa detik sebelum memejamkan mata, atau menyematkan seuntai istighfar di sela lelahnya dunia.
Sebab perjalanan menuju Sang Pencipta bukanlah tentang siapa yang berlari paling cepat, melainkan tentang seberapa sering kita merendahkan ego, dan memilih untuk kembali pulang.
Jika hari ini hatimu terasa berjarak, janganlah menyerah. Barangkali, Dia hanya sedang menantimu mengetuk pintu rahmat-Nya sekali lagi. Ketahuilah, Dia adalah Dzat yang takkan pernah bosan mendekap hamba yang terus mencoba kembali.
Semoga, di setiap lembar yang perlahan kita eja, di setiap bait doa yang kita rakit, dan di setiap langkah kecil yang kita paksakan dengan sisa tenaga… kelak menjadi jalan terang untuk semakin mengenali-Nya, dan direngkuh utuh oleh cinta-Nya.

Tinggalkan Balasan