Penulis: ngaosbook

  • Ruang Kosong di Kedalaman Dada

    Kita sering kali berlari hingga kehabisan napas, mengira bahwa kebahagiaan tersembunyi di ujung garis finis bernama pencapaian.

    Kita bangun menara mimpi tinggi-tinggi, menumpuk harta, dan mengejar tahta hingga nama kita dielu-elukan oleh riuhnya pujian manusia.

    Namun, pernahkah di satu malam yang hening, saat semua sorot lampu telah padam, kau menatap langit-langit kamar dan menemukan sepi yang tak mampu dijelaskan?

    Di puncak segala hal yang kau kira akan membuatmu utuh, anehnya, kau justru merasakan gema kehampaan yang melengking nyaring.

    Ketahuilah, ada sebuah ruang kosong di relung terdalam dada manusia.

    Ruang rahasia yang terlampau suci untuk dijejali oleh hal-hal yang fana.

    Cawan itu takkan pernah penuh meski kau tuangkan seluruh emas di bumi ke dalamnya. Ia takkan pernah terasa hangat meski kau selimuti dengan jutaan gelar dan tepuk tangan.

    Sebab, ruang kosong itu adalah cetakan rindu pada Sang Pemilik Jiwa.

    Ia sengaja dibiarkan berlubang oleh Penciptanya, agar kita tak pernah benar-benar merasa betah di dunia.

    Ia adalah alarm tanpa suara yang berdetak di setiap tarikan napas; mengingatkan bahwa sekeras apa pun kita mencari kepenuhan dari makhluk, bentuk ruang itu hanya pas diisi oleh kehadiran-Nya.

    Harta mungkin sanggup membeli kemewahan, tetapi ia miskin untuk menebus ketenangan.

    Tahta mungkin mampu menundukkan ribuan raga, tetapi ia tak berdaya menaklukkan jiwa yang gelisah.Jika hari ini lelahmu terasa tak berkesudahan, dan kehampaan itu kian menyiksa,berhentilah sejenak.

    Berhentilah memaksa dunia untuk mengisi ruang yang bukan porsinya.

    Jangan-jangan, rasa kosong dan hampa itu bukanlah sebuah kutukan,melainkan cara-Nya yang paling romantis untuk memanggilmu pulang.

    Bawalah jiwa yang lelah itu merendah ke atas sajadah.

    Biarkan sujudmu melarutkan segala ambisi dunia yang merantai punggungmu.Karena hanya dalam pelukan dan pengingatan kepada-Nya…ruang kosong itu akhirnya menemukan makna, dan kepingan dirimu kembali utuh seutuhnya.

  • Saat Hati Lelah, Jangan Berhenti Mendekat

    Ada masa ketika sujud terasa begitu ringan memeluk bumi, hati merengkuh tenang, doa-doa mengalir tanpa jeda, dan ayat-ayat-Nya terasa begitu dekat mengusap jiwa. Namun, kita pun tak luput dari hari-hari di mana segalanya terasa teramat berat.

    Mushaf itu masih diam di sudut yang sama, namun tangan seolah kaku tak kuasa untuk meraihnya. Lirih doa memendek, dan dzikir yang terucap terasa hambar tanpa nyawa. Dalam sunyi kita merintih, “Mengapa hatiku terlempar sejauh ini?” Padahal, Dia tak pernah sejengkal pun menjauh.

    Sering kali, kitalah yang membiarkan hati ini meredup; tertutup pekatnya lelah, riuhnya kesibukan dunia, dosa-dosa yang luput ditangisi, atau ambisi fana yang terlalu sesak memenuhi dada.

    Padahal, berjalan kembali pada-Nya tak selalu menuntut langkah yang besar. Terkadang, rindu itu cukup diobati dengan membuka satu halaman suci, meneteskan satu kalimat syukur yang hening, menengadahkan tangan beberapa detik sebelum memejamkan mata, atau menyematkan seuntai istighfar di sela lelahnya dunia.

    Sebab perjalanan menuju Sang Pencipta bukanlah tentang siapa yang berlari paling cepat, melainkan tentang seberapa sering kita merendahkan ego, dan memilih untuk kembali pulang.

    Jika hari ini hatimu terasa berjarak, janganlah menyerah. Barangkali, Dia hanya sedang menantimu mengetuk pintu rahmat-Nya sekali lagi. Ketahuilah, Dia adalah Dzat yang takkan pernah bosan mendekap hamba yang terus mencoba kembali.

    Semoga, di setiap lembar yang perlahan kita eja, di setiap bait doa yang kita rakit, dan di setiap langkah kecil yang kita paksakan dengan sisa tenaga… kelak menjadi jalan terang untuk semakin mengenali-Nya, dan direngkuh utuh oleh cinta-Nya.